Pil Aborsi: Informasi Obat Aborsi

Pil aborsi adalah metode yang aman & efektif melakukan aborsi di rumah. Informasi tentang obat aborsi Mifepristone dan Misoprostol (Cytotec) dan pil penggugur kandungan dengan harga terjangkau.

Semua konten ditinjau ulang secara rutin oleh dokter medis. Tinjauan ulang konten disesuaikan dengan protokol, penelitian, dan saran kebijakan medis terkini. 

Konsultasi online

APAKAH KAMU PERLU BANTUAN MENGAKHIRI KTD (KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN)?

Mulai konsultasi online

Setiap tahun, ribuan perempuan berhasil mendapatkan pil aborsi melalui layanan aborsi online Women on Web. Kalau kamu tidak mengidap penyakit parah, mengalami kehamilan pada 10 minggu awal, dan tidak dapat mengakses layanan aborsi aman di tempatmu, kami bisa membantumu.  

Disupervisi oleh dokter medis, helpdesk terlatih kami siap menjawab pertanyaan selama 7 hari dalam seminggu yang ingin kamu ajukan sebelum, ketika, dan setelah proses aborsi. Helpdesk menawarkan dukungan tanpa menghakimimu dan memberikan informasi tentang cara melakukan aborsi. Mereka akan menjelaskan cara yang benar dalam menggunakan pil, apa yang akan terjadi setelah menggunakan pil, dan bagaimana tanda-tanda kemungkinan komplikasi.

Sebelum mengakses layanan ini, kami akan diminta untuk mengisi konsultasi online. Konsultasi ini didesain supaya tim medis kami lebih paham dengan situasimu. Konsultasi online ini selayaknya konsultasi tatap muka dengan petugas kesehatan: kamu akan ditanya tentang kehamilanmu dan rekam medis yang akan menjadi pertimbangan apakah kamu dapat melakukan aborsi medis dengan aman. Semua informasi yang kamu berikan tentunya dirahasiakan.

Aborsi medis (dikenal juga dengan aborsi dengan pil) merupakan pilihan yang aman dan efektif untuk mengakhiri kehamilan awal. Aborsi medis mudah dijalankan dan bisa dilakukan di tempat tinggal atau tempat nyaman buatmu yang menjunjung privasi. Melakukan aborsi pada kehamilan 12 minggu awal punya risiko komplikasi yang rendah. Proses dan efek samping aborsi medis sama saja dengan mengalami keguguran dan punya risiko kesehatan yang sama.

Pil Aborsi (Aborsi Medis) Sebelum 12 Minggu

Aborsi medis, diketahui juga dengan “pil aborsi”, “obat aborsi”, “self-managed aborsi”, swaaborsi”, atau “aborsi di rumah”, merujuk pada penggunaan obat-obatan untuk mengakhiri kehamilan. Organisasi Kesehatan Dunia (The World Health Organization - WHO) merekomendasikan aborsi yang bisa kamu atur sebagai pilihan yang aman, berterima, dan memberdayakan sampai kehamilan 12 minggi. Aborsi dengan pil menggunakan kombinasi dua obat, yaitu Mifepristone dan Misoprostol. Kalau kamu tinggal di negara di mana Mifepristone tidak tersedia, kamu juga bisa melakukan aborsi dengan menggunakan Misoprostol saja.

Ketika kamu melakukan aborsi, pilihlah tempat privat di mana kamu bisa beristirahat dan tetap terhidrasi. Sangat disarankan untuk didampingi oleh orang yang kamu percaya demi keamanan untuk menemani dan mendukungmu selama proses berlangsung.

Aborsi Medis dengan Mifepristone dan Misoprostol (Cytotec)

Aborsi medis yang menggunakan Mifepristone dan Misoprostol merupakan metode yang paling umum dan efektif. Mifepristone diminum terlebih dahulu dan akan menghalagi hormon yang dibutuhkan untuk menjaga kehamilan. Setelah 24 jam kemudian, Misoprostol digunakan, yang akan mengendurkan dan membuka serviks dan menyebabkan uterus berkontraksi, membantu mengeluarkan kehamilan dari tubuh. Aborsi medis adalah proses yang memerlukan waktu 2 minggu sampai siklus menstruasi berikutnya untuk dinyatakan tuntas, tetapi kebanyakan perempuan sudah bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala setelah 1—2 hari.

Kami sangat menyarankan untuk menggunakan Misoprostol di bawah lidah untuk memastikan tidak ada sisa yang dapat ditemukan dalam sistem tubuhmu. Kalau nantinya kamu perlu bantuan medis, Misoprostol tidak akan terdeteksi dalam tes darah sehingga tidak ada cara yang membuktikan kamu pernah mencoba mengakhiri kehamilanmu.

Aborsi medis yang dilakukan pada trimester pertama terbukti 98% efektif dan disebut lebih aman daripada proses melahirkan biasa atau menggunakan obat-obatan yang tersedia di warung seperti ibuprofen dan aspirin dengan dosis tinggi. Kedua obat-obatan, Mifepristone dan Misoprostol, dapat ditemukan dalam daftar obat-obatan esensial WHO (Core Model List of Essential Medicines).

Silakan baca petunjuk dan informasi yang lebih lengkap tentang bagaimana cara menggunakan pil aborsi dengan klik di sini.

Aborsi Medis dengan pil aborsi Mifepristone dan Misoprostol (obat Cytotec) Saja

Aborsi medis juga dapat dilakukan hanya dengan menggunakan Misoprostol (obat Cytotec) saja ketika Mifepristone tidak tersedia. Ketika digunakan sesuai rekomendasi penggunaan, aborsi dengan Misoprostol saja 85% efektif, tergantung dari lama kehamilan. Misoprostol tersedia di apotek lokal dan ini mungkin merupakan cara yang lebih aman untuk mengakhiri kehamilanmu karena kamu bisa mendapatkannya dengan lebih cepat. Untuk melakukan aborsi medis dengan Misoprosol saja pada usia kehamilan sampai 12 minggu, kamu akan membutuhkan 12 pil dengan jeda 6-7 jam di antara setiap dosisnya.

Kalau kamu menggunakan Misoprostol saja untuk melakukan aborsi, penting bagimu untuk tahu berapa lama kehamilanmu. Kalau kamu melakukan aborsi dengan menggunakan Misoprostol setelah 12 minggu, risiko pendarahan berat, nyeri parah, dan/atau komplikasi semakin meningkat seiring lama lama kehamilan (begitu juga dengan penggunaan Mifepristone dan Misoprostol pada usia kehamilan di atas 12 minggu). Kamu bisa menghitung lama kehamilan dengan melakukan USG (metode yang paling akurat) atau menghitung dari hari pertama menstruasi terakhirmu sampai hari ini. Kamu bisa menggunakan kalkulator kehamilan di sini.

Silakan baca petunjuk dan informasi tentang bagaimana cara melakukan aborsi dengan menggunakan Misoprostol saja di sini.

Aborsi Medis di Atas 12 Minggu

Ada beberapa alas an yang menyebabkan kebutuhan aborsi pada kehamilan trimester lanjut (12—24 minggu). Bisa saja kamu baru tahu bahwa kamu hamil pada trimester kedua karena siklus menstruasimu memang tidak teratur, di beberapa negara berlaku masa tunggu untuk melakukan aborsi, atau bisa saja kamu berubah pikitan karena situsinya juga berubah; semua alasan valid. Meskipun aborsi pada kehamilan lanjut merupakan kasus minoritas, menyediakan akses aborsi yang aman pada kehamilan lanjut dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas terkait aborsi.

Layanan Women on Web hanya tersedia sampai kehamilan 10 minggu, dengan mempertimbangkan waktu pengiriman paket yang berisi obat dari resep dokter. 

Kalau kamu menggunakan pil pada kehamilan di atas 12 minggu akibat keterlambatan dalam menerima paket, kami sangat menyarakanmu untuk berada dekat dengan fasilitas kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa aborsi medis yang dilakukan pada trimester kedua juga bisa berhasil dan obat-obatannya juga akan menyebabkan aborsi. Meskipun demikian, risiko komplikasinya meningkat dan kemungkinan besar untuk perlu perawatan medis setelahnya.

Aborsi medis setelah 12 minggu selalu menjadi pilihan yang lebih aman daripada metode tidak aman yang digunakan untuk menginduksi aborsi. Metode seperti memasukkan benda tajam ke dalam vagina, minum cairan beracun dengan bahan kimi, atau trauma di dalam perut sangat berbahaya dan berakibat fatal.

Kalkulator Kehamilan

Banyak orang menyadari kehamilan mereka karena berbagai perubahan di tubuh mereka. Gejala awal bisa berupa menstruasi yang terlambat (ketika kamu aktif berhubungan seksual), mual, payudara yang mengencang dan membengkak, dan kelelahan.

Kamu bia memastikan kehamilan dengan melakukan tes kehamilan (hanya akurat jika digunakan setelah hari pertama menstruasimu terlambat) dengan menggunakan test pack atau melakukan ultrasound (USG) (kehamilan terlihat jika dilakukan seminggu setelah menstruasimu terlambat). 

Penelitian menunjukkan bawah perempuan dapat mengestimasi sendiri usia kehamilannya secara akurat. Untuk menghitung kira-kira lama kehamilan, coba ingat-ingat hari pertama menstruasi terakhirmu dan hitung berapa hari itu sampai hari ini; ini akan menunjukkan akurasi yang relative tentang berapa lama kehamilanmu.

Kalau kamu mengira kamu hamil dan mau menggunakan kalkulator kehamilan, silakan klik di sini. Kalau kamu perlu melakukan aborsi dengan pil, Women on Web bisa membantumu sampai lama kehamilan 10 minggu. Klik di sini untuk melakukan konsultasi online.

Efek Samping, Komplikasi, dan Risiko

Aborsi medis atau aborsi dengan pil (Mifepristone dan Misoprostol) merupakan cara yang aman dan efektif (98% tingkat keberhasilan) untuk mengakhiri kehamilan. Efek samping aborsi medis sama dengan ketika orang mengalami keguguran spontan. Kurang dari 0.4% mengalami komplikasi serius. Ada beberapa risiko kesehatan dan efek samping untuk menjadi pertimbangan tetapi aborsi medis sudah teruji secara luas dan digunakan perawatan kesehatan modern oleh jutaan perempuan di seluruh dunia.

Apa yang akan terjadi setelahya (efek samping)

Setelah melakukan aborsi dengan pil, kamu akan mengalami kram, nyeri di bagian perut, pendarahan, dan mengeluarkan gumpalan darah dan tissue. Kamu juga mungkin mengalami mual, muntal, sakit kepala, pusing, diare, keringatan atau demam. Pendarahan sering kali merupakan tanda awal bahwa aborsi sudah dimulai. Pendarahan akan berlanjut dan kram akan semakin menjadi. Aborsi medis bisa terasa seperti menstruasi yang banyak. Semakin lama kehamilannya, semakin menjadi nyeri dan pendarahannya. Puncak pendarahan biasanya berhenti 1 sampai 2 jam setelah mengeluarkan tissue atau jaringan kehamilan.

Untuk mengurangi ketidaknyamanan, kamu bisa menggunakan pereda nyeri (NSAIDs), seperti Ibuprofen atau Diclofenac sebelum melakukan aborsi.

Kalau gejala ini terasa semakin parah atau terus belanjut selama beberapa hari setelah menggunakan Misoprostol, kamu harus memeriksakannya kepada petugas kesehatan.

Informasi yang lebih detil, silakan kunjungi laman Pertanyaan & Jawaban.

Mengenali Komplikasi

Risiko mengalami komplikasi dari aborsi medis sangat rendah (kurang dari 0,4% berakhir dengan komplikasi serius). Risiko ini serupa dengan orang yang mengalami keguguran spontan dan akan dirawat dengan cara yang sama. Tanda-tanda kamu mungkin mengalami komplikasi setelah melakukan aborsi sebagai berikut.

Pendarahan berat

Kalau kamu mengalami pendarahan yang berlangsung lebih dari 2 ja, dan membutuhkan 2 atau lebih pembalut ukuran maxi setiap jamnya, atau kamu mulai merasa pusing atau terasa mau pingsan (ini tanda kamu kehilangan terlalu banyak darah), kamu harus segera mencari perawatan medis. Obat-obatan atau kadang pembedahan (vakum aspitasi) mungkin dibutuhkan untuk mengatasi pendarahan berat, tetapi biasanya tambahan dosis Misoprostol akan menghentikan pendarahan. Di dalam kasus yang sangat jarang (kurang dari 0,2%), tranfusi darah mungkin dibutuhkan.

Kalau kamu perlu perawatan medis lebih lanjut, ketika pergi ke rumah sakit dan jika masih ada, taruh 2 Misoprostol di bawah lidahmu utnuk membantumu dengan pendarahan. Ingat untuk menelannya atau meludahkan sisanya sebelum memasuki rumah sakit.

Demam tinggi

Demam tinggi bisa menjadi tanda terjadinya infeksi. Hal yang wajar untuk mengalami demam ringan (di bawah 38 C) dalam kurun waktu 24 jam ketika menggunakan pil, tetapi jika memburuk atau terus berlanjut lebih dari sehari atau dua hari, kamu mungkin mengalami komplikasi. Jika ini yang terhadi, kamu harus mencari perawatan medis karena kamu perlu antibiotik atau vakum aspirasi untuk mengeluarkan tissue yang terinfeksi.

Reaksi alergi

Reaksi alergi dapat muncul setelah menggunakan pil aborsi. Beberapa gejala alergi ringan wajar terjadi, termasuk kulit yang menjadi gatal, memerah, atau bentol-bentul. Reaksi ini akan hilang sendiri atau bisa diatas dengan antihistamines. Kalau kamu mengalami reaksi yang lebih parah, seperti membengkak, kesulitan bernapas, pusing, pingsan, atau merasa ada tekanan di dada, kamu sebaiknya segera mendapatkan perawatan medis.

 

Kalau kamu mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas, kamu harus mencari pertolongan medis.

Untuk informasi lebih detil, kamu bisa mengunjungi laman Pertanyaan &Jawaban

Apa yang akan terjadi kalau pilnya tidak ampuh?

Salah satu risikonya adalah aborsi tidak mengakhiri kehamilanmu. Kalau kamu masih atau tetap mengalami gejala kehamilan setelah menggunakan pilnya, seperti mual atau payudara yang mengeras, kamu mungkin mengalami kehamilan yang berlanjut, Kamu disarankan untuk melakukan tes kehamilan 3 minggu setelahnya untuk mengkonfirmasi kamu tidak hamil lagi. Sangat penting untuk menunggu sampai setidaknya 3 minggu sebelum melakukan tes kehamilan. Tubuhmu masih menyimpan hormon kehamilan yang bisa menyebabkan hasilnya positif palsu.

Aborsi yang belum tuntas

Risiko lainnya adalah aborsi yang belum tuntas atau incomplete abortion. Artinya, kehamilan sudah berakhir, tetapi masih ada sisa di dalam uterusmu. Kalau sisa jaringan masih ada di dalam tubuhmu, kamu dapat mengalami komplikasi, seperti pendarahan berat atau infeksi. Kalau kamu mengalami nyeri di bagian perut yang tidak berangsur menghilang setelah beberapa hari, nyeri yang parah, terlalu banyak pendarahan (lebih banyak dari menstruasi biasa), demam, atau pendarahan yang berlangsung lama, kamu mungkin mengalami aborsi yang belum tuntas. Tiga minggu setelah aborsi, kamu mungkin masih menemukan hasil tes kehamilanmu positif kalau kamu mengalami aborsi yang belum tuntas. Kalau ini terjadi, kamu sebaiknya melakukan USG untuk memastikan tidak ada sisa jaringan dalam tubuhmu. Kalau kamu tidak mengalami tanda komplikasi, kamu bisa menggunakan 2 Misoprostol lagi untuk mengeluarkan sisanya.

Kehamilan ektopik

Terakhir, pil aborsi tidak akan berhasil kalau kamu mengalami kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik adalah menempelnya fetus di luar uterus (biasanya di tuba falopi). Kalau ini yang terjadi, pil tidak akan efektif dan kamu harus segera ditangani petugas kesehatan. Kehamilan ektopik jarang terjadi tetapi bisa menyebabkan risiko kesehatan serius dan perlu diatasi sesegera mungkin. Kalau kamu mengalami nyeri yang berlangsung terus-menerus setelah aborsi, khususnya hanya terjadi di satu sisi perut saja, kamu mungkin mengalami kehamilan ektopik. Sangat penting untuk memeriksa kehamilanmu sudah selesai dengan menggunakan tes kehamilan 3 minggu setelahnya. Kalau hasilnya positif, penting untuk memeriksakannya karena ada kemungkinan kamu mengalami kehamilan ektopik.

Informasi yang lebih lengkap bisa dibaca di lama Pertanyaan & Jawaban.

Aborsi medis vs pembedahan: Apa perbedaannya?

Ada dua metode aborsi: pembedahan dan medis. Aborsi pembedahan adalah prosedur minor yang mengeluarkan kehamilan melalui cara pembedahan. Cara yang direkomendasikan dan paling banyak digunakan di klinik atau fasilitas kesehatan adalah valum aspirasi. Tindakan ini dilakukan oleh petugas kesehatan terlatih dan mengharuskanmu untuk datang ke klinik.

Aborsi medis adalah aborsi dengan pil. Banyak perempuan memilih metode ini karena kurang invasive dan tidak membutuhkan anestesi atau peralatan. Prosesnya bisa diatur di rumah yang membuatnya menjadi lebih privat dan Sebagian perempuan menyebutkan metode ini terasa lebih natural karena seperti mengalami menstruasi yang banyak atau keguguran. Aborsi yang dilakukan di rumah mengurangi kebutuhan perjalanan dan bisa menjadwalkan penjagaan anak, komitmen kerja, yang membuatnya menjadi aborsi yang aman dan tidak intrusif.

Di beebrapa negara, hanya tersedia aborsi pembedahan, tetapi akses untuk kedua metode sangat esensial dan dibutuhkan dalam perawatan kesehatan yang sensitif secara waktu.

Metode yang tidak aman dan bahan-bahan yang menyebabkan aborsi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menytakan aborsi yang diatur sendiri atau aborsi di rumah merupakan pilihan yang aman dan efektif. Meskipun demikian, internet sering menyajikan informasi tentang metode aborsi di rumah yang keliru. Beberapa bahan terkesan ampuh, seperti produk natural atau murah yang ada di rumah, sebaiknya kamu tetap menghindari bahan-bahan ini untuk mengakhiri kehamilan. Bahan-bahan iu tidak efektif dan bisa berujung pada risiko kesehatan serius. Komplikasi hasil dari bahan-bahan yang ada di rumah dapat berakhir pada aborsi yang tidak tuntas, infeksi, pendarahan berlebihan, atau bahkan konsekuensi yang mengancam nyawa penggunanya.

Di tempat-tempat yang melarang atau membatasu aborsi, perempuan sering kali menyemukan metode tidak aman untuk mengakhiri kehamilannya. Menurut WHO, sebanyak 45% dari semua aborsi yang dilakukan di seluruh dunia merupakan metode yang tidak aman. Metode aborsi aman yang aman dan efektif dilakukan adalah aborsi medis dan pembedahan. Jangan pernah mencoba solusi yang melibatkan racun, benda-benda taham yang dimasukkan dalam tubuh, atau menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri kehamilan. Kalau kamu perlu aborsi, klik di sini untuk melakukan konsutasi dan mendapatkan layanan aborsi yang aman.  

Beberapa bahan yang harus dihindari sebagai berikut.

Minuman dan rempah

Beberapa alternatif melakukan aborsi di rumah terkesan aman, seperti menggunakan hjenujenis minuman dan campuran rempah. Sayangnya, metode ini bisa beujung pada risiko kesehatan dan mengandung racun. Bahkan rempah yang terkesan biasa digunakan sehari-hari dapat menyebabkan risiko kesehatan jika digunakan dengan cara yang tidak sesuai atau berlebihan.

Ada beberapa jenis tanaman yang kerap dimitoskan bisa menstimulasi menstruasi, mendorong Rahim untuk berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Selain itu, ada pula buah-buahan dan vitamin yang dianggap bisa menginduksi aborsi. Namun, efektivitasnya untuk menginduksi aborsi membutuhkan jumlah yang malah mengakibatkan penggunanya keracunan. Menggunakannya untuk mengakhiri kehamilan berisiko tinggi yang malah mengakibatkan dibutuhkannya perawatan medis dan tidak efektif sebagai metode aborsi.

Cairan pembersih atau kandungan kimia

Baham kimia yang sering ditemukan di rumah jangan pernah digunakan untuk menginduksi aborsi; terlepas seakan terlihat tidak berbahaya. Bahan-bahan seperti itu bisa menyebabkan keracunan dan membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin.

Menggunakan bahan kimia seperti pembersih atau pemutih sangat berbahaya dan jangan pernah dicoba.

Pereda nyeri, atau obat-obatan resep dokter, bisa ditemukan di warung

Kamu harus menggunakan obat-obatan di rumah seperti yang sudah diresepkan oleh petugas medis profesional. Menggunakan obat-obatan yang tidak ditujukan untuk menginduksi aborsi dalam merisikokan kesehatanmu.  

Kalau kamu ingin mengakhiri kehamilan dengan menggunakan pil aborsi, kamu perlu berhati-hari dengan penjual yang mengaku menawarkan pil asli. Penjualan obat palsu sering terjadi, khususnya di internet, termasuk pil aborsi. Pastikan kamu mencari tahu secara mendalam sebelum membeli atau memesan pil aborsi untuk memastikan mereka memberikan pil asli.

Baca daftar penjual palsu di sini.

Untuk informasi lebih lanjut terkait aborsi tidak aman, klik di sini

Hukum tentang Aborsi 

Hukum aborsi di berbagai negara mempunyai peraturan yang berbeda, mulai dari sama sekali dilarang sampai diperbolehkan mengakses layanan aborsi berdasarkan permintaan perempuan. Bahkan di negara yang melarang atau membatasi akses aborsi (seperti hanya boleh dilakukan jika mengancam nyawa perempuannya, aborsi masih terjadi dan dibutuhkan. Faktanya, tingkat kehamilan yang tidak diinginkan paling tinggi ada di negara-negara yang membatasi akses aborsi.

Kamu bisa melihat pangkalan data World’s Abortion Laws untuk melihat status legalitas aborsi di negaramu.

Ada dua obat-obatan yang digunakan untuk melakukan aborsi, yaitu Mifepristone dan Misoprostol, keduanya masuk dalam daftar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai obat-obatan esensial (Core Model List of Essential Medicines). Daftar ini berisi obat-obatan yang dianggap penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam sistem perawaatan kesehatan masyarakat. WHO menyebutkan aborsi sebagai isu kesehatan masyarakat dan mendukung penggunaan pil aborsi sebagai cara yang aman dan efektif untuk mengakhiri kehamilan.

Kamu bisa membaca lebih lanjut tentang layanan aborsi dan dukungan yang tersedia di negaramu di sini.

 

KAMI ADA DI SINI UNTUK MENDUKUNGMU

Mulai konsultasi online