Apakah aborsi medis berbahaya?

 

Aborsi medis yang dilakukan pada rentang waktu 10 minggu pertama kehamilan memiliki sedikit sekali risiko komplikasi. Risikonya sama besar dengan saat perempuan mengalami keguguran natural. Masalah seperti ini dapat ditangani oleh dokter dengan mudah.

Dari 100 perempuan yang melakukan aborsi medis, 2 atau 3 perempuan harus pergi ke dokter atau layanan kesehatan darurat untuk menerima perawatan lebih lanjut. Di negara yang proses persalinannya dianggap aman, 1 di antara 10.000 perempuan meninggal saat melahirkan. Sementara itu, kurang dari 1 di antara 100.000 perempuan yang melakukan aborsi medis meninggal. Hal ini membuat aborsi medis lebih aman dibanding proses persalinan dan seaman keguguran spontan. Ini berarti bahwa aborsi aman dengan Mifepristone dan Misoprostol dapat menyelamatkan nyawa perempuan.

 

Di Eropa, lebih dari 1,5 juta perempuan mengakhiri kehamilan mereka dengan menggunakan Mifepristone dan Misoprostol. Aborsi medis terbukti aman dan efektif, dengan beberapa komplikasi serius dan tingkat kesuksesan hingga 95—98%. Mifepristone dan Misoprostol dinyatakan termasuk dalam daftar obat penting oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2005.

Aborsi medis lebih aman daripada penggunaan antibiotik. Risiko anafilaksis fatal dengan penicilin sebelumnya telah diestimasikan sekitar 1 dalam 100.000 [1]. Angka kematian aborsi medis kurang dari 1 dalam 250.000 perempuan yang melakukan aborsi medis.

“Layanan aborsi aman bisa disediakan oleh pemberi layanan kesehatan terlatih, termasuk pemberi layanan midlevel (misalnya bukan dokter) (35, 6). Istilah “pemberi layanan midlevel” dalam konteks dokumen ini merujuk pada mereka yang tidak harus menjadi dokter klinis (misalnya bidan, praktisi perawat, pekerja klinis, asisten dokter, pengunjung dari dinas kesejahteraan keluarga, dan lainnya).”

“Layanan aborsi bisa disediakan di rumah dan layanan rawat jalan yang aman dan meminimalisasi biaya sementara memaksimalkan kenyamanan dan perempuan mendapatkan perhatian terus-menerus. (7) “

“Memperbolehkan penggunakan Misoprostol di rumah setelah penggunaan Mifepristone di fasilitas layanan kesehatan bisa meningkatkan privasi, kenyamanan, dan penerimaan layanan, tanpa mengkompromikan keamanan (8—10). Pelayanan aborsi sebaiknya disediakan untuk penanganan aborsi medis dengan usia kehamilan tidak lebih dari 9 minggu (63 hari) dan penanganan komplikasi aborsi yang parah (lihat Chapter 2).” [2]

(Halaman 65 dalam Laporan WHO)

1 http://jac.oxfordjournals.org/content/60/5/1172.long
2 Significant adverse events and outcomes after medical abortion. Cleland K, at all Obstet Gynecol. 2013 Jan;121(1):166-71. doi: http://10.1097/AOG.0b013e3182755763.
3 WHO report: Safe abortion: technical and policy guidance for health systems, 2012. page 65

Sumber ilmiah:

Penelitian menunjukkan bahwa sedikit sekali komplikasi serius yang disebabkan oleh aborsi medis dibandingkan dengan angka perempuan yang sukses melakukan aborsi medis. 16 17 20 21 22 Dalam segelintir kasus, intervensi bedah seperti kuret (vakum aspirasi) diperlukan, hal ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan yang biasa menangani kasus perempuan yang keguguran.

 

Lama Kehamilan

% dari perempuan yang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut

0- 49 hari (0-7 minggu)

2 %

40-63 hari (7-9 minggu)

2.5%

64-70 hari (9-10 minggu)

2.7%

71-77 hari (10-11 minggu)

3.3%

 

2 atau 3 dari 100 perempuan yang melakukan aborsi medis akan membutuhkan bantuan dokter setempat, puskesmas, atau rumah sakit untuk menerima perawatan lebih lanjut, seperti vakum aspirasi. Risikonya sama dengan perawatan medis yang diperlukan saat mengalami reaksi alergi setelah penggunaan penisilin. 56 57 (Perawatan medis lanjutan termasuk vakum aspirasi untuk kehamilan yang berlanjut atau aborsi tidak lengkap.)

Aborsi medis dengan Mifepristone dan Misoprostol banyak digunakan di kebanyakan negara Eropa. Di Prancis, sekitar 1.000.000 aborsi dilakukan dengan Mifepristone dan Misoprostol sejak 1992 dan tidak ada kasus kematian terjadi.

Pada Januari 2009, sekitar 1.000.000 perempuan di Amerika Serikat dan lebih dari 2 juta perempuan di Eropa telah menggunakan Mifepristone dengan Misoprostol untuk memicu aborsi dan ada lima kasus kematian terkait penggunaan Mifepristone dalam aborsi medis. 65

Pada 2005, Badan Pangan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mempublikasikan sebuah saran kesehatan masyarakat terkait penggunaan Mifepristone dan Misoprostol untuk aborsi medis. Di dalamnya, FDA menyatakan, “Risiko sepsis fatal pada perempuan yang melakukan aborsi medis sangat jarang (kira-kira 1 di antara 100.000). 37 12 36

Kemungkinan kematian akibat aborsi medis kurang dari 1 di antara 100.000. 9 19 Keguguran (disebut juga aborsi spontan) relatif sering terjadi terkait kehamilan, terjadi sekitar 15 dari 100 kehamilan. 35 Angka kematian terkait dengan keguguran di Amerika Serikat juga kurang dari 1 kematian per 100.000 keguguran. 35 Karena itu, angka kematian terkait dengan aborsi medis hampir sama dengan angka kematian dalam kasus keguguran. 9 62

Bandingkan angka kematian ini dengan kematian yang disebabkan oleh Viagra, obat yang dipakai untuk pengobatan disfungsi ereksi.

Awal tahun 2000, sekitar 11 juta resep dituliskan untuk Viagra. 18 Terdapat 564 pria meninggal karena pemakaian obat tersebut, menurut artikel yang dimuat the Journal of the American Medical Association. Berdasarkan jumlah resep yang dituliskan, angka kematian berkisar antara 1 dari 20.000 resep! Kebanyakan lelaki memperoleh lebih dari 1 resep dan ini berarti angka kematian sebenarnya lebih tinggi daripada 1 dari 20.000 pengguna. Namun, angka kematian terkait Viagra masih belum menjadi alasan untuk menarik obat ini dari pasaran.

Bandingkan angka kematian aborsi medis dengan angka kematian akibat penisilin. Reaksi fatal terhadap penisilin terjadi pada 1 kasus per 50.000-100.000 pengobatan. 58 Hal ini berarti bahwa aborsi medis lebih aman dibandingkan pengobatan dengan penisilin.

Risiko yang dikaitkan dengan keguguran dan aborsi yang aman dan legal “pada intinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan risiko melanjutkan kehamilan." 9

Di banyak negara, ada lebih banyak kematian terkait dengan persalinan dibanding aborsi yang diinduksi. Angka riil kematian akibat aborsi yang diinduksi jauh lebih kecil dibandingkan dengan angka yang tertera dalam tabel di bawah ini. Hal ini disebabkan kematian yang terkait dengan aborsi yang diinduksi masuk dalam kelompok kategori yang sama dengan keguguran dan kehamilan ektopik. 41

 

Negara

Kematian akibat keguguran, kehamilan ektopik, aborsi

Kematian akibat keguguran, kehamilan ektopik, aborsi per kelahiran hidup

Kematian terkait kehamilan, tidak termasuk aborsi

Kematian terkait kehamilan per kelahiran hidup

Prancis

2

1 dari 387.000

48

1 dari 16.000

Australia

0

0 dari 246.000

12

1 dari 21.000

Kanada

1

1 dari 328.000

10

1 dari 33.000

Sumber: Database Kematian WHO, 2001

 

Meskipun komplikasi dapat terjadi, aborsi medis menggunakan layanan ini jauh lebih aman dibandingkan aborsi tidak aman di tempat yang sangat dibatasi. 19 juta aborsi tidak aman terjadi setiap tahun, dan 68.000 di antaranya berujung pada kematian perempuan. 43 Ini berarti satu di antara 279 perempuan yang melakukan aborsi tidak aman meninggal yang tidak perlu.
Untuk setiap 68.000 perempuan ini, terdapat 30 lebih (total 2.040.000 perempuan) yang menderita kesakitan dan kecacatan akibat aborsi tidak aman. 44 Ini berarti 1 dari setiap 9 perempuan yang melakukan aborsi tidak aman menderita komplikasi jangka panjang yang tidak perlu.