Apa itu kehamilan ektopik dan bagaimana cara tahu kalau kamu mengalaminya?

Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berkembang di luar rahim, biasanya di tuba fallopi (oviduk). Ini merupakan situasi yang membahayakan nyawa karena kalau kehamilannya berkembang terlalu besar, itu bisa menyebabkan pecahnya tuba. Kehamilan ektopik harus selalu mendapat tindakan seperti operasi atau penggunaan obat: aborsi medis tidak berpengaruh terhadap kehamilan di luar rahim. 

Kamu bisa melihat kehamilan ada di dalam atau luar rahim melalui USG. Kalau kamu menggunakan Mifepristone dan Misoprostol untuk mengakhiri kehamilan dan tidak melakukan USG sebelumnya, ada kemungkinan kamu mengalami kehamilan ektopik yang belum terdeteksi. Kalau kamu tidak mengeluarkan tisu atau tidak mengalami pendarahan setelah menggunakan Misoprostol, ini bisa jadi indikasi kehamilan ektopik. Tanda-tanda kehamilan ektopik yang sudah pecah di antaranya kamu mengalami kesakitan parah tiba-tiba atau berlangsung terus-menerus, keliyengan atau pingsan, atau ada nyeri di pundak. Kalau kamu mengalami tanda-tanda bahaya ini, kamu harus segera mencari bantuan medis sesegera mungkin. Kehamilan ektopik bisa diberi tindakan di mana saja, bahkan di tempat yang sangat membatasi aborsi. 

 

Informasi lebih lanjut: 

Orang hamil yang punya gejala berikut mungkin mengalami kehamilan ektopik: nyeri perut atau bagian panggul, kram di satu sisi panggul, sedikit pendarahan melalui vagina yang tidak biasa, sakit di bagian payudara, pusing, dan sakit punggu di bagian bawah.  

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur tidak menempel dan tumbuh di uterus seperti biasanya, melainkan menempel dan tumbuh di bagian lain, biasanya di tuba fallopi (oviduk). Tuba fallopi merupakan saluran kecil yang menjadi jalan dari ovarium ke rahim bagi sel telur yang sudah membuahi. Kalau kehamilan berlanjut, embrio akan bertumbuh dan menjadi terlalu besar untuk berada di tuba fallopi sehingga bisa menyebabkan pecahnya saluran itu. Kehamilan ektopik tidak bisa dilanjutkan atau dibiarkan begitu saja, ada risiko pendarahan dalam yang berat akibat rusaknya tuba fallopi yang bisa mengancam nyawa.

Aborsi dengan pil Mifepristone dan Misoprostol tidak menyebabkan kehamilan ektopik dan tidak dapat mengatasi kehamilan ektopik juga. Kalau kehamilan ektopik dibiarkan saja, embrionya bisa terus berkembang di luar rahim bahkan setelah menggunakan Mifepristone dan Misoprostol. Tidak ada buktinya bahwa aborsi medis dapat menyebabkan komplikasi yang tidak biasa bagi perempuan dengan kehamilan ektopik.