Peran Media dalam Advokasi Aborsi Aman

 

IMG_7619.JPG

Media menjadi salah satu aktor penting dalam penyebaran informasi akurat terkait aborsi aman. Media bisa menjadi panduan dalam derasnya arus informasi elektronik karena jurnalis berperan dalam memverifikasi data. Jurnalis mampu memberitakan aborsi dari perspektif kemanusiaan yang tidak melulu menyudutkan perempuan dan menggolongkannya dalam tindak kriminal.

Menanggapi pentingnya peran media, Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) mengadakan pelatihan bagi jurnalis dalam pemberitaan aborsi. Setelah pelatihan tersebut, artikel yang tentang aborsi yang ditulis peserta pelatihan dikumpulkan. Terpilihlah tiga tulisan yang dianggap terbaik dalam mewakili perspektif kemanusiaan.

Kisah perkosaan dan aborsi bisa masuk dalam dua rubrik yang berbeda, pun sebenarnya saling berkelindan. Sonya mengatakan perkosaan bisa masuk kriminal, sedangkan aborsi bisa masuk kesehatan. “Ada berapa banyak wartawan tertarik dengan isu kesehatan?” Sonya bertanya seakan itu retoris, padahal sebagian hadirin ingin tahu betul jawabannya. Artinya, itu banyak atau tidak banyak? Apa alasannya?

Pun wartawan sudah punya kapasitas yang baik, mereka tetap harus berhadapan dengan editor sebagai pengambil keputusan. Tambahnya, pelatihan seharusnya bukan hanya untuk wartawan, juga perlu sering-sering “ngobrol” dengan pengambil keputusan di media.

Women on Web turut hadir dalam obrolan soal peran media dalam advokasi aborsi aman yang diinisiasi oleh Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) pada Selasa, 16 April 2019, tepat sehari sebelum Pemilihan Umum. Ketiga orang yang duduk di depan adalah Sonya Helen dari harian Kompas dan dr. Sarsanto Sarwono yang mewakili POGI, dimoderatori oleh Zumrotin dari YKP. Pada penjelasan awalnya, dr. Sarsanto menegaskan bahwa penyintas perkosaan seharusnya memang dilindungi hukum dalam mengakses layanan aborsi aman, tetapi sistemnya belum ada sehingga belum bisa terimplementasikan dengan baik.