Aborsi Aman itu Mungkin Asalkan Kita Menyudahi Alasan Moral

 

Screen Shot 2019-03-21 at 6.10.20 PM.png

Tirto.id menuliskan aborsi dengan memaparkan pandangan pro-choice dan pro-life di Indonesia. Pun, sepanjang tulisannya, mereka lebih memilih menggunakan istilah "anti-aborsi" alih-alih "pro-life". Pilihan yang cukup bijak. Pendukung aborsi juga sebenarnya berpihak pada kehidupan. Kehidupan perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan.

Sunarti—dari kelompok antiaborsi—bilang, “Jangan sampai malah membuka celah,” katanya, khawatir bakal ada perempuan hamil dari "hubungan suka sama suka tapi mengaku diperkosa." Ditambah lagi, “Korban perkosaan juga harus benar-benar trauma berat. Artinya, keluarga dan lingkungan sudah tidak bisa menenangkan.” Kedua klaim itu harus dikuatkan oleh keterangan dari para ahli, tambahnya.

 

Lagi-lagi, ia berangkat dari pandangan bahwa pengalaman perempuan perlu validasi dari orang lain. Padahal, cerita seorang perempuan sudah valid; ada; tanpa perlu berjumlah banyak.

 

Menariknya, tulisan ini menjejakkan diri pada data; bukan hanya adu pendapat. Misalnya, tindakan aborsi lazim dilakukan di Indonesia berdasarkan penelitian Guttmacher Institute pada 2008. Pun benar, angka ini hanyalah gambaran saja. Masih banyak perempuan melakukan aborsi di klinik yang tidak tercatat, belum lagi usahanya untuk melakukan aborsi tidak aman. Padahal, bisa berujung membahayakan keselamatannya.

 

Indonesia pernah unjuk gigi, ternyata. “Ali Said sebagai jaksa agung saat itu bersedia membuat surat edaran, yang intinya menjamin pengabaian hukum untuk para dokter yang melakukan aborsi aman.” Namun, situasi jelas berubah sekarang.

 

“Hambatan lawas problem kultural, moral-agama, hingga politik, lagi-lagi, telah menjerat upaya-upaya praktik aborsi aman.” Begitu tulis Aditya Widya Putri sebagai penutup tulisannya.

 

Tulisa lengkap bisa dibaca di sini.